Sempat Hijau, IHSG Ditutup Koreksi 0,2%

Seorang karyawan beraktivitas di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (28/3). IHSG pada perdagangan Senin (28/3) ditutup melemah 53,4 poin atau 1,11 persen ke level 4.773,6. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/kye/16.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan sesi II perdagangan Rabu (17/5/23) turun 0,2% menjadi 6.663,11 secara harian.

Sebanyak 331 saham melemah, 210 saham tidak bergerak, dan hanya 201 saham yang menguat. Perdagangan menunjukkan nilai transaksi mencapai sekitar Rp. 10,8 triliun dengan melibatkan sekitar https://idpromeja138.com/ 31 miliar saham yang berpindah tangan sebanyak 1,3 juta kali.

Setelah sempat dibuka menguat beberapa saat, IHSG bergerak volatile hingga ditutup di wilayah negatif di akhir sesi II. Dalam lima hari perdagangan IHSG terkoreksi 2,18%. Sementara itu, secara year to date (ytd) indeks membukukan koreksi sebesar 2,74%.

Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) via Refinitiv sebagian besar sektor melemah. Sektor Energi masih menjadi yang paling merugikan indeks turun 1,5% lebih. Saham emiten batubara milik PT Bayan Resources dan PT Adaro Energy berkontribusi negatif terhadap IHSG masing-masing dengan bobot sebesar 4,78 dan 4,29 indeks poin.

Secara keseluruhan, IHSG cenderung fluktuatif pada perdagangan hari ini. Saham batu bara masih menjadi salah satu pemberat indeks.

Sentimen dari turunnya nilai ekspor Indonesia sepertinya menjadi pemberat indeks dan saham-saham batu bara pada sesi II hari ini.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor Indonesia April 2023 tercatat US$ 19,29 miliar, turun 17,62% dibandingkan Maret lalu dan anjlok 29,4% dibanding April 2022.

Nilai impor Indonesia April 2023 juga mengalami penurunan ke posisi US$ 15,35 miliar. Nilai impor turun 25,45% secara bulanan, dan menyusut 22,32% dibandingkan April 2022.

Emiten-emiten yang berada di sektor yang berkaitan dengan ekspor dan terutama komoditas kemungkinan akan mengalami tekanan dalam beberapa hari ke depan.

Selain itu, ada kemungkinan bank sentral AS (The Fed) kembali menaikkan suku bunga acuannya. Hal tersebut menjadi salah satu penekan Wall Street, bahkan harga emas pun ikut anjlok. Melansir data Refinitiv, emas merosot hingga 1,6% kemarin ke US$ 1.989/troy ons.

Presiden The Fed wilayah Richmond pun mengatakan ia masih “nyaman” jika suku bunga kembali dinaikkan untuk menurunkan inflasi.

Alhasil pasar saham kembali tertekan, emas juga anjlok. Semakin tinggi suku bunga. artinya likuiditas semakin ketat, yang berdampak buruk ke pasar saham.

Para investor bisa lebih tertarik menanamkan uangnya di obligasi atau deposito karena suku bunga sedang tinggi, dan minim risiko.

“Kita perlu melihat tanda-tanda The Fed mencapai pivot, dan hingga saat ini kita belum benar-benar melihatnya,” kata Craig Erlam, analis pasar senior di OANDA, sebagaimana dilansir CNBC International.

Pasar kini melihat probabilitas kenaikan suku bunga di AS pada bulan depan sekitar 17% kembali naik dari sebelumnya di bawah dua digit, berdasarkan data dari perangkat FedWatch milik CME Group.

Selain itu, para pelaku pasar menunggu kebijakan terkait suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada pekan depan. Sehingga membuat para pelaku pasar masih wait and see.

Ditambah pada tanggal 18 Mei 2023 adalah hari libur nasional dalam rangka memperingati kenaikan Isa Almasih. Hal ini dapat mendorong pelaku pasar untuk menahan transaksi karena terjepit hari libur dan menanti IHSG bisa koreksi lebih dalam hingga Jumat pekan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*