Bursa Asia Ditutup Beragam, Gegara IMF?

FILE PHOTO: Men stand in front of a stock quotation board outside a brokerage in Tokyo, Japan December 19, 2018. REUTERS/Issei Kato

Bursa Asia-Pasifik ditutup bervariasi pada perdagangan Rabu (12/4/2023), karena investor menunggu data inflasi Amerika Serikat (AS) yang akan menentukan langkah bank sentral AS kedepannya.

Indeks Nikkei 225 Jepang ditutup menguat 0,57% ke posisi 28.082,699, Shanghai Composite China bertambah 0,41% ke 3.327,18, ASX 200 Australia terapresiasi 0,47% ke 7.343,9, dan KOSPI Korea Selatan naik 0,11% menjadi 2.550,64.

Sedangkan untuk indeks Hang Seng Hong Kong merosot 0,86% ke posisi 20.309,859, Straits Times Singapura melemah 0,36% ke 3.286,12, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir terkoreksi 0,18% menjadi 6.798,96.

Saat ini, investor mengantisipasi rilis indeks harga konsumen (IHK) konsumen AS per Maret, yang akan dirilis Rabu, dan indeks harga produsen, Kamis.

Kedua metrik inflasi tersebut dapat memberikan kejelasan lebih lanjut tentang bagaimana The Fed dapat melanjutkan kebijakan kenaikan suku bunga.

Bagi The Fed, CPI bulanan yang mengukur harga sekeranjang barang dan jasa, telah menjadi titik data utama dalam keputusannya untuk menaikkan suku bunga selama setahun terakhir.

Sejak Maret tahun lalu, suku bunga naik dari nol menjadi 4,5% menjadi 4,75%, level tertinggi sejak 2007.

Di lain sisi, Dana Moneter Internasional (IMF), dikutip dari CNBC International, Selasa (11/4), memangkas outlook pertumbuhan ekonomi global 2023 seiring kenaikan suku bunga ‘mendinginkan’ aktivitas ekonomi.

Dalam laporan World Economic Outlook (WEO) teranyarnya, IMF memperingatkan gejolak sistem keuangan yang parah dapat memangkas produksi ke tingkat yang mendekati resesi.

Ke depan, jelas ekonom IMF, risiko terhadap pertumbuhan ekonomi terus menghantui, merujuk pada krisis sistem perbankan, Silicon Valley Bank (SVB) di AS dan ‘kawin paksa’ Credit Suisse dan rival UBS Group di Swiss, pada Maret lalu.

“Dengan peningkatan volatilitas pasar keuangan baru-baru ini, kabut seputar prospek ekonomi dunia telah menebal,” kata IMF di tengah pertemuan musim semi minggu dengan Bank Dunia pekan ini di Washington, AS.

Dalam laporan teranyarnya, IMF memperkirakan pertumbuhan PDB riil global sebesar 2,8% untuk 2023 dan 3,0% untuk 2024.

Angka tersebut turun tajam dari pertumbuhan 3,4% pada 2022 di tengah kebijakan moneter yang lebih ketat saat ini.

“‘Hard landing’ – terutama untuk ekonomi maju – telah menjadi risiko yang jauh lebih besar. Pembuat kebijakan mungkin menghadapi trade-off yang sulit untuk menurunkan inflasi dan mempertahankan pertumbuhan sambil menjaga stabilitas keuangan,” jelas IMF.

Sementara, prakiraan pertumbuhan ekonomi selama 2023 dan 2024 diturunkan sebesar 0,1 poin persentase dari perkiraan yang dikeluarkan sebelumnya pada Januari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*